Rabu, 18 Mei 2011

Angin Ban Lebih Bagus Pakai Nitrogen. Benarkah?



Beragam persepsi muncul soal penggunaan gas nitrogen pada ban kendaraan.  Sebagian besar menyatakan penggunaan nitrogen membuat ban lebih empuk, benarkah? Malah ada yang berkomentar dan menyatakan, kendaran jadi hemat bahan bakar. Padahal itu salah besar.
Udara yang kita hirup sehari-hari sebanyak 78% adalah nitrogen. Unsur oksigen justru kurang dari 21%. Sisanya adalah uap air, CO2 dan konsentrasi gas mulia seperti argon dan neon bisa kita abaikan keberadaannya.

Penggunaan Nitrogen pada ban awalnya digunakan untuk keperluan balap. Nitrogen memiliki molekul yang lebih padat. Oleh karena itu, nitrogen tidak mudah menyusup keluar dibanding udara. Oleh karena itu, jika tidak ada kebocoran, tekanan ban berisi nitrogen lebih awet dibanding udara. Hal ini penting di arena balap karena perbedaan tekanan ban 0,5 Psi saja sangat berpengaruh pada performa saat melibas tikungan.
Karena lebih padat, pengisian dengan nitrogen jauh lebih cepat dibanding dengan udara sehingga menghemat waktu. Ini penting di sebuah kompetisi balap, karena perbedaan 1/1000 detik saja mampu menentukan sebuah kemenangan.
Gas Nitrogen

Di arena balap Formula 1, kita kerap menyaksikan para kru membungkus ban dengan jaket penghangat ban. Tujuannya agar suhu ban sesuai dengan temperatur kerja optimalnya. Ban yang terlalu dingin membuat tapak ban menjadi keras sehingga daya cengkram berkurang. Sebaliknya, jika ban terlalu panas membuat udara dalam ban memuai dan berpotensi meledak. Nitrogen yang memiliki sifat dingin membuat suhu bagian dalam ban relatif lebih rendah meski tapak ban dalam kondisi panas. Alhasil, tekanan ban lebih stabil sehingga pembalap lebih mudah 'mengenali' karakter ban tanpa terinfeksi perubahan performa akibat perubahan suhu.
Kandungan air (walaupun berbentuk uap) dalam udara merupakan sesuatu yang buruk jka berada di dalam ban. Ia mampu mengundang terjadinya korosi pada velg besi maupun aluminium. Kandungan air dalam udara juga membuat tekanan ban mudah terpengaruh akibat panas dibanding udara tanpa kandungan air.

Padahal tidak semua kompresor udara yang ada di pinggir jalan dilengkapi filter penyaring uap air.Bahkan pernah ada kasus di mana pemilik kendaraan menemui kondisi ban kendaraannya berisi air. Mungkin benda cair ini masuk saat pemompaan dengan tabung kompresor berisi air akibat proses kondensasi yang berkepanjangan.
Hal ini tak akan terjadi jika kita mengisi ban dengan nitrogen. Karena saat mengganti pertama kali dengan nitrogen, bengkel umumnya akan melakukan pengurasan berkali-kali sehingga akan mengurangi kandungan oksigen yang berpotensi mengundang hadirnya uap air untuk digantikan dengan nitrogen murni yang bersifat kering sehingga mampu mencegah timbulnya korosi.
Soal performa ban yang dikatakan menjadi lebih empuk oleh sebagian besar penggunanya? Itu hanya sugesti saja dan secara teknis tak ada kaitannya. Karena tekanan 30 PSI, tak peduli ia berisi nitrogen, oksigen, bahkan diisi LPG sekalipun akan tetap 30 PSI, alias tak akan menjadi lebih empuk. 

Mangtafff...
Pada dasarnya kita tak akan bisa merasakan perbedaan ban yang diisi oleh udara atau dengan nitrogen kecuali tekanan udara dalam ban jauh dari yang diijinkan. Jadi, jika suatu saat Anda terpaksa mengisi ban kendaraan dengan angin biasa karena tak tersedianya nitrogen, lakukan saja. Anda bisa menggantinya lagi jika menemukan bengkel yang menyediakan.

Semoga bermanfaat, mohon maaf klo repost…Ada yang berpendapat lain? Share aja...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar